Wawasan & TipOct 19 2025
Bagaimana membedakan tren dari fenomena yang hanya viral sesaat?
Pelajari cara membedakan tren sesaat di TikTok dari tren budaya yang benar-benar relevan. Pahami mengapa konteks, social listening, dan insight budaya krusial bagi strategi brand jangka panjang.
Madhuparna Chaudhuri
Marketing Manager & Content Specialist @Exolyt

Di dunia TikTok yang serba cepat, mudah keliru menyamakan momen viral sesaat dengan tren yang bermakna. Sebagian besar brand antusias mengejar apa pun yang sedang “trending” di media sosial, namun dalam prosesnya mereka kerap mengabaikan apa arti tren yang sebenarnya. Benar, ikut serta dalam challenge atau meme TikTok yang viral dapat memberikan engagement jangka pendek. Namun, momen trending biasanya bersifat sementara – tarian atau hashtag yang viral hari ini bisa terlupa minggu depan. Tantangan sekaligus peluang bagi para pemasar dan perancang strategi brand adalah mempelajari cara membedakan fenomena sesaat dari tren budaya yang sedang muncul yang menandakan pergeseran sikap konsumen yang lebih mendalam.

Sedang Tren vs. Tren vs. Tren Sesaat: Mengapa Penting

  • Trending = yang terlihat di permukaan—lonjakan atensi yang didorong algoritme.
  • Tren = pergeseran yang lebih mendalam dan bertahan lama dalam perilaku atau nilai.
  • Fad = tren sesaat yang cepat memuncak lalu cepat padam; berumur pendek dan minim relevansi jangka panjang.

Meskipun istilah-istilah ini tampak hampir serupa, ada perbedaan tipis namun penting: seberapa besar dampaknya terhadap perilaku dan budaya, seberapa cepat momentumnya terbentuk, dan seberapa lekas ia berhenti mendorong tindakan. Memahami perbedaan ini membantu brand menghindari salah langkah strategis—misalnya meluncurkan kampanye mahal yang bertumpu pada sentimen sesaat yang akan segera memudar.

Tren vs. Trending: Budaya Cepat vs. Budaya Lambat

Untuk membedakan tren dari sekadar topik yang sedang trending, penting memahami perbedaan antara kultur cepat dan kultur lambat. “Kultur cepat” merujuk pada fenomena jangka pendek yang berubah cepat dan didorong oleh media sosial serta budaya pop, sedangkan “kultur lambat” mencakup arus budaya yang lebih mendasar dan bertahan lama, yang berkembang dalam rentang waktu lebih panjang. Video viral, tagar, dan cuplikan suara di TikTok adalah contoh paling jelas dari kultur cepat—mereka meledak dengan cepat dan sering kali meredup secepat itu juga. Namun di balik lonjakan popularitas tersebut, bisa jadi ada gerakan kultur lambat yang bertahan dan tumbuh dari waktu ke waktu.

Trending ≠ Tren: Seperti diungkapkan Kim Townend, pakar social listening, dalam artikel Exolyt, “tren yang dilihat terpisah tidak banyak memberi insight; sementara topik yang trending, jika dipantau dari waktu ke waktu, memperlihatkan pola dan kesamaan.”

Dengan kata lain, sebuah hashtag TikTok yang meledak minggu ini bisa jadi hanya lonjakan sesaat, tetapi jika Anda melihat tema-tema terkait muncul berulang selama beberapa bulan atau lintas komunitas, kemungkinan itu adalah tren budaya yang sebenarnya. Sekadar melihat apa yang sedang tren di TikTok tidak cukup — kita perlu menghubungkan momen-momen viral tersebut dengan gambaran besar tentang kekuatan budaya jangka panjang yang membentuk perilaku konsumen.

Sebagai contoh, “Cozy Culture” muncul sebagai tren TikTok yang menampilkan estetika dan konten bernuansa menenangkan (bayangkan pencahayaan hangat, setup gaming yang nyaman, atau tema musiman pumpkin spice). Di permukaan, konten “cozy” menjadi viral dalam gelombang musiman (fenomena budaya yang serba cepat). Namun, rasa nyaman juga menyentuh keinginan jangka panjang konsumen akan kenyamanan dan nostalgia—sebuah pergeseran budaya yang lebih lambat.

Baca selengkapnya tentang fenomena budaya ini di blog kami: Bagaimana memanfaatkan social listening untuk mengidentifikasi tren budaya?

Exolyt-Blog-CTA-SocialListeningforCulturalTrends

Mengapa Konteks Penting: Melampaui Tren Sesaat dan “Trendwashing”

Mengejar setiap tren TikTok terbaru memang menggoda, namun melakukannya tanpa pemahaman berisiko. Mengikuti meme atau tarian tanpa memahami konteksnya dapat berujung pada apa yang disebut Marek Tabota, pakar strategi media sosial, sebagai “trendwashing” – peniruan tren yang dangkal dan langsung dikenali audiens sebagai tidak otentik.

Semua orang ingin memanfaatkan tren di TikTok, tetapi mengadopsi sinyal budaya tanpa memahami makna yang lebih dalam sering berbalik merugikan. Bagi brand, pesannya jelas: jangan sekadar memantau tren, pahami maknanya. Sebuah hashtag atau audio yang sedang tren bisa menandakan sesuatu yang lebih besar di dunia audiens Anda—pergeseran humor, nilai, atau kebutuhan—dan melewatkan konteks itu berarti melewatkan insight yang sebenarnya.

Nilai Nyata: Insight Budaya, Bukan Sekadar Mengejar Tren

Menurut pendiri The SI Lab, Dr. Jillian Ney, tren menunjukkan apa yang populer; insight budaya menangkap mengapa hal itu beresonansi—yakni keyakinan, motivasi, dan pergeseran identitas. Beliau menekankan perlunya melampaui sekadar metrik: menanyakan apa makna sesungguhnya dari pola yang muncul, suara siapa yang terlihat (atau justru absen), serta bagaimana algoritme dapat menyimpangkan visibilitas.

Ini bukan metode yang rapi—ini adalah pola pikir. Ini menuntut kesiapan untuk merangkul kompleksitas, nyaman dengan ambiguitas, dan menghargai thick data (istilah dari Tricia Wang)—narasi yang sarat konteks di balik percakapan di media sosial. Sumber.

Eugene Healey: Konteks Menentukan Segalanya

Eugene Healey mengingatkan: membungkus brand Anda dengan estetika viral bukanlah strategi—dan sering terasa hampa. Dalam sebuah esai The Guardian, ia menyoroti bagaimana gaya Gen Z yang apa adanya (raw, unfiltered)—misalnya posting “bedrotten”—telah menjadi estetika yang justru dipoles, kehilangan autentisitas yang sebenarnya. Dan ketika brand mengadopsi gaya ‘raw dan unfiltered’ di media sosial, tidak ada yang lebih tidak autentik daripada korporasi multinasional dengan kapitalisasi pasar miliaran dolar yang berpura-pura menjadi remaja yang sinis—namun begitulah kenyataannya. Menurutnya, mengejar autentisitas menuntut pemahaman dan pemantauan budaya.

Sejalan dengan itu, dalam artikel kolaboratifnya bersama Exolyt, ia membagikan pandangannya tentang tantangan—sekaligus peluang—menyikapi dinamika siklus konten TikTok yang bergerak sangat cepat. Algoritma TikTok telah mengubah cara kita memaknai dan merespons tren—di saat hampir semua hal terasa seperti tren, tidak semuanya layak mendapatkan alokasi anggaran dan sumber daya. Karena itu, jangan memperlakukan tren sebagai jalan pintas untuk menaikkan engagement; jika tidak selaras dengan identitas brand, pemanfaatan tren justru terkesan asal-asalan, bukan cerdas.

Berikut beberapa sorotan utama dari videonya:

  • Ketahui metrik yang Anda lacak

Tidak semua hashtag yang sedang tren atau video viral adalah sinyal pergeseran budaya yang nyata. Membedakan momen sesaat dari percakapan yang berpotensi membentuk perilaku konsumen sangat krusial.

  • Manfaatkan Alat untuk Menyaring Noise

Eugene menekankan pentingnya alat social listening. Misalnya, Exolyt melacak dan memetakan percakapan terkait untuk membantu memisahkan tren yang relevan dari sekadar meme sesaat.

  • Petakan Ekosistem Tren

Seperti disebutkan sebelumnya, memahami bagaimana tren berkaitan dengan kategori yang lebih luas dapat membantu brand menyelaraskan pesan dan alokasi sumber daya secara efektif, karena penting untuk mengetahui bahwa percakapan tersebut akan bertahan sebelum Anda berinvestasi di dalamnya.

  • Beralih dari Reaktif ke Strategis

Dengan mengidentifikasi jaringan percakapan yang lebih dalam, merek dapat mengambil keputusan berbasis data tentang di mana perlu berpartisipasi, dengan siapa berkolaborasi, serta bagaimana membangun strategi konten jangka panjang.

Cara Mengidentifikasi Tren Sebenarnya (Tanpa Tersilaukan oleh Hype Viral)

Membedakan tren berkelanjutan dari fenomena sesaat memerlukan pendekatan yang lebih strategis dan berbasis riset. Di sini, social listening dan analisis budaya adalah alat utama. Berikut beberapa langkah praktis dan kriteria untuk membantu membedakan tren yang benar-benar nyata dari yang sekadar viral di TikTok:

  • Identifikasi koneksi lintas komunitas:

Indikator cepat adalah melihat seberapa luas dan beragam engagement yang terjadi. Jika sebuah hashtag atau tema muncul di berbagai komunitas atau subkultur di TikTok, itu menandakan relevansi yang lebih luas. Semakin banyak kelompok berbeda yang mengadopsi sebuah tagar atau meme seiring waktu, semakin besar kemungkinan hal tersebut mencerminkan tren budaya, bukan sekadar tren sesaat di ceruk tertentu.

Sebagai contoh, jika sebuah hashtag fashion digunakan bukan hanya oleh penggemar fashion tetapi juga muncul dalam konten musik, gaming, dan kuliner, hal itu menandakan relevansi budaya yang meluas. Sebaliknya, topik yang sedang tren namun hanya terbatas pada satu ceruk kecil di TikTok bisa hilang minggu depan.

Tip: Lacak sebuah hashtag selama beberapa bulan—tren sesaat cenderung cepat meredup, sedangkan tren yang benar-benar kuat akan muncul berulang kali dan di beragam konteks. Anda juga dapat memantau Graph Exolyt Hashtag Relations untuk memahami apakah subtopik yang membangun momentum tren utama juga muncul di percakapan terkait lainnya, serta seberapa luas kemunculannya.

Sumber: Exolyt Hashtag Relations, misalnya #BookTok

  • Cermati Pola dan Tema yang Berulang:

Jangan hanya menghitung jumlah tayangan; cari tema atau estetika yang berulang. Apakah Anda melihat nuansa, pesan, atau visual yang serupa di berbagai video yang sedang tren? Apakah istilah slang, cuplikan lagu, atau gaya tertentu muncul berulang kali? Pola dapat menandakan hadirnya arus yang lebih besar. Seperti dikemukakan seorang analis, menjadi sangat aktif di ranah online dan peka terhadap nuansa ini memudahkan Anda menghubungkan titik-titik dan memahami pergeseran budaya yang lebih besar yang mendorong tren tersebut.

Sebagai contoh, maraknya konten DIY dan fashion hack upcycled di TikTok dapat mengindikasikan tren yang lebih besar: sustainability dan anti-konsumerisme di kalangan anak muda, meski setiap tren video (thrift flips, closet tours, dll.) tampak terpisah, semuanya berbagi nilai yang sama. Jadi, cari kesamaan dalam alasan audiens terlibat dengan konten tertentu: apakah karena ekspresi identitas, nostalgia, pemberontakan, atau rasa memiliki terhadap komunitas? Benang merah tersebut mengisyaratkan tren yang mendasarinya.

  • Tinjau ketahanan jangka panjang dan kehadiran lintas platform:

Salah satu ciri tren yang benar-benar kuat adalah kemampuan untuk bertahan dan meluas melampaui satu platform. Jika sesuatu sedang populer di TikTok dan Anda melihat gaungnya di Instagram, Twitter (X), YouTube, atau pada pencarian Google, berarti tren itu punya daya tahan—lebih dari sekadar tren TikTok yang cepat berlalu. Sebaliknya, jika sebuah fenomena hanya besar di TikTok dan muncul mendadak, kemungkinan itu sekadar ledakan sesaat.

Telusuri sudah berapa lama topik ini mengemuka: Apakah topik atau tagar ini sudah ada lebih dari beberapa minggu? Apakah lonjakan minatnya berulang secara musiman atau terus meningkat dari waktu ke waktu? Tren yang konsisten berkembang sepanjang setahun (meski naik-turun) dan masih menunjukkan arah pertumbuhan positif merupakan kandidat kuat untuk menjadi tren budaya yang nyata. Selain itu, cek apakah orang mencarinya di Google atau membahasnya di Reddit—pertumbuhan volume pencarian atau percakapan lintas platform biasanya menunjukkan tren tersebut mencerminkan minat yang lebih luas, bukan sekadar anomali algoritme TikTok.

Anda selalu dapat mengandalkan Exolyt untuk memantau laju pertumbuhan, baik historis maupun terkini, untuk topik apa pun di TikTok. Analisis pertumbuhan hashtag yang presisi dari Exolyt menyajikan angka pertumbuhan yang akurat—diukur melalui tayangan, jumlah posting, dan engagement—pada tingkat harian dari waktu ke waktu.

  • Analisis Mengapa (Kontekstualisasi Tren):

Setelah Anda mengidentifikasi sebuah tren potensial, telusuri lebih dalam untuk memahami konteks serta pendorongnya. Di sinilah social listening dan analisis mendalam berperan. Kumpulkan data tentang bagaimana tren tersebut diperbincangkan: bahasa apa yang digunakan? Sentimen atau motivasi apa yang diekspresikan?

Alih-alih hanya mengandalkan AI atau dashboard untuk memberi konteks, luangkan waktu meninjau konten secara kualitatif—baca komentar, catat anekdot pengguna, dan amati bagaimana tren berevolusi. Sering kali, insight paling bernilai muncul saat Anda melihat bagaimana pengguna sendiri menafsirkan tren tersebut. Kelompokkan konten atau percakapan terkait ke dalam tema untuk melihat gambaran menyeluruh (misalnya, apakah mayoritas orang berpartisipasi dalam tren TikTok untuk humor, untuk solidaritas, atau sebagai ekspresi kreativitas?).

Dengan menyelami percakapan, Anda dapat menafsirkan bukan hanya apa yang dilakukan orang, tetapi mengapa mereka melakukannya seperti itu. Konteks ini akan menunjukkan apakah tren tersebut terkait dengan narasi budaya yang bermakna atau sekadar meme iseng.

  • Identifikasi Kebutuhan atau Perilaku Manusia yang Mendasari:

Setiap tren yang bertahan berakar pada dorongan manusia yang mendasar—keinginan, ketakutan, atau nilai. Tanyakan: Kebutuhan apa yang dipenuhi tren ini? Bisa jadi kebutuhan akan komunitas (misalnya tagar yang menyatukan sebuah subkultur), ekspresi diri, pelarian, keaslian, dan seterusnya. Mengidentifikasi pendorong ini sangat krusial.

Jika Anda menemukan bahwa tren mikro di TikTok didorong oleh, misalnya, aspirasi seperti penerimaan tubuh, kebebasan finansial, atau kesadaran lingkungan, Anda tidak sekadar melihat satu tren—Anda sedang melihat bagian dari gerakan budaya yang lebih besar.

Seperti disarankan para peneliti tren, memahami perilaku atau kebutuhan yang belum terpenuhi yang mendorong sebuah tren membantu Anda melihat bagaimana tren tersebut selaras dengan pergeseran budaya yang lebih luas. Sebagai contoh, tren viral “#GirlDinner” (di mana pengguna menampilkan makan malam piring camilan yang minimalis) mungkin terlihat seperti sekadar konsep lucu yang mudah dibagikan, namun di baliknya bisa menjadi komentar tentang kehidupan mandiri atau penolakan terhadap norma makan formal—tema yang terhubung dengan percakapan budaya yang lebih luas tentang gaya hidup dan perawatan diri. Selalu hubungkan tren kembali ke kisah manusia yang mendasar.

Anda juga dapat merujuk pada webinar oleh Marek Tobota ini untuk mempelajari cara membedakan momen viral sesaat dari tren budaya yang tengah muncul—indikasi pergeseran yang lebih mendalam pada sikap konsumen.

Webinar - How to do digital ethnography in practice

Sepanjang proses ini, tools social listening dan platform analitik sangat berharga. Mengimbangi secara manual arus konten TikTok yang sangat deras sangat menantang, namun platform seperti Exolyt dirancang untuk membantu mengidentifikasi dan melacak tren ini.

Contohnya, Dashboard Exolyt dapat menunjukkan tagar dan sound TikTok yang sedang tren secara real time, dan bahkan menyoroti tagar terkait atau komunitas yang aktif berinteraksi dengannya. Ini memudahkan Anda memvalidasi apakah 'intuisi tren' Anda benar-benar diadopsi secara luas atau sekadar ramai di komunitas yang terbatas.

Perlu diingat, alat menyediakan data — Anda yang perlu menambahkan analisis budaya di atas data tersebut. Seorang pakar mengingatkan, jangan hanya mengandalkan AI untuk menganalisis data untuk Anda tanpa masukan; Anda bisa melewatkan insight paling bernilai karenanya. Sebaliknya, gunakan alat untuk mengumpulkan informasi, lalu terapkan rasa ingin tahu dan keahlian manusia untuk menafsirkan maknanya.

Dari Tren Sesaat di TikTok Menjadi Tren Budaya: Contoh dalam Praktik

Terkadang, perbedaan antara tren sesaat (fad) dan tren yang berkelanjutan baru jelas terlihat di kemudian hari. Pertimbangkan kasus-kasus berikut:

  • “Cortisol Matcha”: Sekilas, hanya hack wellness viral lainnya. Dalam konteksnya, ini menandakan tren konsumen yang lebih dalam: meningkatnya kesadaran akan manajemen stres dan kesehatan hormon. Resep tren sesaat tersebut merupakan bagian dari percakapan kesehatan yang lebih luas.

Sumber: Exolyt - Percakapan terkait kortisol di TikTok

  • Strategi berbasis purpose Patagonia: Aktivisme lingkungan bukan tren sesaat. Langkah Patagonia—dari kampanye anti-konsumsi hingga aktivisme yang konsisten—menunjukkan kekuatan menyelaraskan brand dengan nilai-nilai budaya yang langgeng, bukan sekadar mengejar tren estetika yang cepat berlalu.
  • Kebangkitan Digital Marimekko: Di TikTok, motif Marimekko menjadi tren, namun merek ini memanfaatkan momentum dengan mengaitkan lonjakan tersebut dengan asosiasi budaya yang lebih dalam: warisan Finlandia, keberlanjutan, dan keceriaan dalam berekspresi.
@marimekko

Our Scandi friend @Pernille Rosenkilde on a dreamy summer stroll 🧡 #marimekko #unikko #ootd #ootdinspo #copenhagen #springoutfit #scarvesstyling

♬ CARNAVAL - Cavendish

Contoh-contoh ini menegaskan bahwa apa yang sedang tren di TikTok dapat menjadi pintu masuk ke insight budaya yang bermakna—asal kita tidak berhenti di permukaan. Tren menjadi lebih kuat ketika terhubung dengan arus budaya (misalnya kenyamanan, autentisitas, kebanggaan terhadap identitas, dan sebagainya), dan merek yang memahami arus tersebut dapat merespons dengan cara yang terasa autentik bagi audiens.

Gambaran besar: Identifikasi tren dengan insight budaya

Pada akhirnya, kunci membedakan tren yang nyata dari hype sesaat adalah tetap fokus pada gambaran besar. Para pemasar dan ahli strategi harus ingat bahwa TikTok adalah cermin masyarakat sekaligus sumber hiburan. Kita hidup di dunia yang bergerak sangat cepat, dan mudah terbawa arus budaya serba-cepat. Namun, mengidentifikasi tren yang memiliki umur panjang dan layak untuk waktu serta investasi Anda kini lebih penting dari sebelumnya. Secara praktis, ini berarti memanfaatkan TikTok bukan hanya untuk konten yang sedang tren, tetapi juga sebagai jendela ke budaya audiens Anda yang terus berkembang.

Dengan menggabungkan social listening real-time dengan analisis budaya yang lebih mendalam, Anda dapat memprediksi momen viral mana yang menjadi indikator awal pergeseran yang lebih besar. Wawasan ini dapat memandu berbagai keputusan, mulai dari strategi konten hingga pengembangan produk.

Misalnya, mengidentifikasi tren yang nyata sejak awal dapat menjaga relevansi jangka panjang strategi pemasaran Anda atau menginspirasi lini produk baru, sekaligus mengurangi risiko sekadar ikut arus yang berujung buntu. Sebaliknya, memahami di mana topik utama Anda berposisi dalam lanskap budaya—mengapa orang benar-benar membicarakannya, bagaimana perilaku mereka berubah, dan apa yang mereka harapkan dari brand—memungkinkan Anda tetap selangkah di depan pesaing dalam membangun relevansi yang lebih kuat dengan audiens.

Kesimpulannya, “apa yang sedang tren” hanyalah titik awal.

Nilai sebenarnya muncul saat lonjakan atensi dihubungkan dengan narasi budaya yang bertahan lama. Tren tidak berdiri sendiri; itu adalah benang dalam anyaman besar perubahan sosial. Sebagai brand strategist atau pemasar, tugas Anda adalah melihat keseluruhan anyaman, bukan hanya benang yang paling mencolok. Jadi, saat tren TikTok berikutnya menarik perhatian Anda, nikmati – namun juga tanyakan, sebenarnya ini tentang apa?

Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat dan memanfaatkan social intelligence, Anda akan dapat memisahkan sinyal dari noise dan mengubah hype viral menjadi strategi yang dapat ditindaklanjuti. Di tengah banjir data dan beragam dashboard, insight kualitatif berbasis konteks budaya seperti ini bukan sekadar berguna—ini bersifat transformasional bagi siapa pun yang ingin membangun kampanye dengan dampak nyata.

Jelajahi Exolyt untuk kebutuhan riset TikTok Anda

Mulai uji coba gratis 7 hari, atau hubungi tim kami untuk mempelajari lebih lanjut tentang fitur platform dan potensi penerapannya.

Madhuparna Chaudhuri
Marketing Manager & Content Specialist @Exolyt