TikTok bukan sekadar tarian viral atau meme Gen Z. Dengan lebih dari 1,5 miliar pengguna di seluruh dunia dan 170 juta di Amerika Serikat saja, TikTok bahkan telah melampaui Instagram di pasar Amerika Serikat. Hal ini menjadikannya salah satu platform paling berpengaruh untuk membentuk perilaku konsumen dan mendorong loyalitas merek.
Bagi perusahaan, ini berarti TikTok lebih dari sekadar channel pemasaran. Di sinilah tren lahir, opini menyebar, dan keputusan pembelian diambil secara real time. Namun, tantangannya jelas: banyak perusahaan masih menebak-nebak apa yang efektif bagi audiens mereka.
Merek yang berhasil di TikTok bukan yang paling lantang berbicara, melainkan yang paling cermat mendengar. Dengan menerapkan social listening, perusahaan dapat mengetahui apa yang penting bagi audiens, memantau tren yang muncul, dan meluncurkan kampanye lebih cepat—sebelum para pesaing menyadari tren baru tersebut.
Artikel ini mengulas mengapa social listening di TikTok penting dan menjelaskan lima cara social listening dapat memperkuat strategi pemasaran TikTok Anda.
Mengapa social listening penting di TikTok?
TikTok adalah platform media sosial utama untuk penemuan produk: Tagar #TikTokMadeMeBuyIt telah menjadi versi modern dari “as seen on TV”, memicu tren belanja global dan membuat produk ludes terjual dalam semalam. Toko buku kini menyiapkan area display khusus #BookTok, dan peritel kosmetik mengisi rak dengan produk yang viral di TikTok.
Jika Anda menargetkan placement rak dan display yang paling diperebutkan untuk produk Anda, social listening adalah kompas Anda dalam lanskap tren yang bergerak cepat. Komunitas TikTok sangat dinamis; percakapan baru dan momen viral bisa muncul dalam semalam. Brand yang mampu membaca sinyal lebih dini dan bergerak cepat sekaligus tepat akan meraih visibilitas.
Social listening melampaui monitoring media sosial yang hanya di permukaan. Bukan sekadar menghitung like atau view. Sebaliknya, pendekatan ini menggabungkan data kuantitatif dan insight kualitatif, memberi Anda gambaran menyeluruh tentang bagaimana orang membicarakan brand Anda, industri Anda, bahkan kompetitor Anda.
Dengan memantau percakapan ini, Anda dapat memahami kebutuhan nyata audiens—beserta frustrasi dan ekspektasi mereka. Dengan bekal insight tersebut, Anda tidak lagi terpaku pada vanity metrics dan dapat merancang kampanye yang benar-benar mengena, membangun loyalitas, serta mendorong hasil bisnis yang nyata.
5 cara meningkatkan performa pemasaran TikTok melalui social listening:
Analisis kompetitor Anda dan lakukan benchmarking performa mereka
Memantau apa yang dilakukan kompetitor di TikTok membantu Anda memahami apa yang efektif dan apa yang tidak di industri Anda. Dengan melacak seberapa sering mereka posting, format konten yang digunakan (storytelling, kolaborasi dengan influencer, carousel), serta faktor yang benar-benar mendorong engagement, Anda akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang strategi yang mereka terapkan.
Perhatikan hashtag mereka, sound yang sedang tren, dan bahkan percakapan di kolom komentar. Insight tersebut mengungkap bukan hanya apa yang paling mengena, tetapi juga di mana letak pain point audiens, sehingga memberi Anda peluang untuk menyempurnakan pesan merek Anda.
Benchmarking terhadap kompetitor memperlihatkan posisi Anda—apakah selangkah di depan atau mulai tertinggal. Dan saat Anda cepat merespons konten yang mereka publikasikan, Anda bahkan bisa mengubah kampanye mereka menjadi peluang bagi brand Anda.
Contoh: Samsung
Ketika Apple meluncurkan kampanye “Crush” untuk iPad Pro terbaru, idenya sederhana. Sebuah mesin press raksasa menghancurkan alat-alat kreatif seperti gitar, kaleng cat, dan kamera—melambangkan bahwa semuanya bisa disatukan dalam satu perangkat yang sangat mumpuni. Namun banyak seniman dan kreator menafsirkannya berbeda: sebagai metafora teknologi yang menghancurkan kreativitas manusia. Respons negatif pun muncul dengan cepat.
Samsung memanfaatkan momentum dengan respons cerdas. Dalam video “UnCrush”, seorang musisi mengambil salah satu gitar yang dihancurkan dalam iklan Apple dan memainkannya sambil menggunakan tablet Samsung untuk membaca partitur. Alih-alih menggantikan kreativitas, Samsung memosisikan teknologinya sebagai alat pendukung kreativitas.
Pahami audiens Anda
Jumlah komentar di TikTok bisa sangat masif, sehingga insight bernilai mudah tenggelam di tengah noise. Platform Social listening seperti Exolyt membantu perusahaan menyaring noise tersebut dan memahami persepsi audiens terhadap brand mereka.
Dengan analisis sentimen, Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi respons positif yang layak diperkuat dan diperluas jangkauannya, serta respons negatif yang menjadi bahan pembelajaran. Kritik tidak selalu merupakan serangan terhadap brand Anda; lebih sering justru menjadi peluang untuk memahami apa yang diinginkan audiens. Jika dimanfaatkan dengan tepat, Anda dapat menyempurnakan produk dan memperjelas siapa yang brand Anda layani dan siapa yang tidak.
Dengan social listening, Anda bahkan dapat menemukan audiens yang belum Anda sadari. TikTok terdiri dari beragam subkomunitas—dari #BeautyTok hingga #BookTok. Melacak di mana brand Anda disebut dapat mengungkap audiens baru yang selama ini belum Anda targetkan.
Contoh: Ryanair
Ryanair membangun seluruh kehadirannya di TikTok berdasarkan prinsip ini. Alih-alih menghindari keluhan tentang penerbangan low-cost, mereka menanggapinya dengan balasan sarkastik dan berani yang lebih relevan bagi pelanggan yang sensitif terhadap harga. Hasilnya? Suara merek yang jelas: “Ya, kami murah, dan itulah yang Anda pilih sejak awal.” Dengan mengubah umpan balik negatif menjadi konten humoris yang terasa dekat, Ryanair mengubah kritik menjadi momen viral dan memperkuat identitas mereknya di pasar maskapai yang sangat kompetitif.
@ryanair do better 🥱 #ryanair
♬ original sound - Ryanair
Identifikasi tren — bahkan sebelum tren tersebut muncul
Sebagian besar tren berawal di TikTok sebelum menyebar ke platform sosial lainnya. Di TikTok, banyak elemen bisa menjadi viral: sebuah video, sound yang mudah diingat, atau sebuah hashtag. Aplikasi ini dibangun untuk mendorong viralitas—lebih daripada platform besar mana pun—yang berarti jika Anda ingin berhasil, Anda perlu memahami tren yang memicunya.
Tetap di depan pola-pola ini memungkinkan Anda bergerak cepat saat pola tersebut muncul, bahkan mengantisipasinya sebelum pesaing menyadarinya. Social listening tidak sekadar menjaga relevansi merek Anda; praktik ini juga dapat menginspirasi pengembangan produk.
Contoh: Sprite Tea
Tren baru muncul di TikTok ketika pengguna bereksperimen dengan mencampurkan Sprite dan kantong teh untuk membuat kreasi minuman unik. Konten buatan pengguna (UGC) yang awalnya bersifat ringan itu dengan cepat mendapatkan perhatian dan menyebar luas di seluruh platform.
Menurut A.P. Chaney, Direktur Kreatif Senior di Sprite, seorang staf magang terlebih dahulu meneliti tren tersebut di TikTok. Melihat momentum itu, Sprite memanfaatkan ide tersebut dan secara resmi meluncurkan Sprite + Tea sebagai produk baru. Contoh nyata bagaimana social listening dapat mengubah tren organik dari komunitas menjadi produk yang siap dipasarkan.
@jordan_the_stallion8 #stitch with @Hisham Raus #fypシ
♬ original sound - Jordan_The_Stallion8
Temukan influencer dan peluang UGC
Dengan melacak hashtag yang tepat dan memantau tren yang muncul, Anda dapat menemukan kreator yang sudah membicarakan brand Anda atau aktif di niche Anda. Ini juga cara yang efektif untuk mengidentifikasi influencer yang berpotensi menjadi mitra strategis bagi brand. Hal ini membuka peluang konten buatan pengguna (UGC) yang autentik untuk meningkatkan brand awareness dan memperkuat loyalitas.
Berikut cara memulai pemasaran influencer di TikTok:
Contoh: Urban Skin Rx
Urban Skin Rx belum aktif di TikTok ketika suatu hari penjualan mereka tiba-tiba melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan hari biasa. Mereka memeriksa akun Instagram — tempat mereka rutin memposting — untuk mencari penyebabnya, namun tidak menemukan apa pun. Belakangan, mereka mengetahui bahwa seorang mikro-influencer dengan hanya 36.900 pengikut mengunggah video di TikTok yang menampilkan hasil penggunaan produk perawatan kulit mereka. Video tersebut viral, meraih lebih dari lima juta penayangan hanya dalam 24 jam.
Satu konten tersebut mengubah arah pertumbuhan brand. Setelah mereka menggandakan investasi pada TikTok sebagai platform utama, penjualan mereka tumbuh 100% YoY, dengan setengah dari pertumbuhan itu diatribusikan langsung ke TikTok. Ini membuktikan bahwa UGC dan micro-influencer sering kali memberikan dampak lebih besar daripada kampanye beranggaran besar.
Sempurnakan pemasaran dan produk Anda berdasarkan masukan audiens
Audiens Anda di TikTok adalah sumber masukan dan insight yang berkelanjutan, jika Anda tahu cara mendengarkannya. Dengan analisis sentimen, Anda dapat mengidentifikasi pujian maupun kritik yang berulang yang mengungkap apa yang efektif dan yang tidak pada konten Anda. Reaksi negatif di TikTok muncul dengan cepat, memberi Anda kesempatan untuk menyesuaikan pesan, bereksperimen dengan format baru, atau bahkan menyempurnakan produk.
Hal yang sama berlaku untuk format konten: jika audiens Anda menyukai tutorial, unboxing, atau konten di balik layar, memperkuat fokus pada format-format tersebut dapat mengubah lonjakan jangka pendek menjadi performa jangka panjang yang konsisten. Dan ketika keluhan tiba-tiba meningkat — misalnya karena bug pada aplikasi — social listening memastikan Anda yang pertama mendeteksinya, sehingga masalah dapat ditangani sebelum berkembang menjadi krisis besar.
Contoh: Loewe
Pemasaran untuk fesyen mewah secara tradisional bertumpu pada eksklusivitas, kontrol, dan kesempurnaan yang serba terkurasi. Ini berlawanan dengan nilai yang dijunjung TikTok: tren yang bergerak cepat dan fokus pada autentisitas. Dipandu oleh perilaku dan umpan balik audiens, brand fesyen Loewe memutuskan untuk meninggalkan konsep pemasaran tradisional dan mengadopsi "cara TikTok"—konten yang terasa dekat dan relevan bagi audiens, lebih spontan daripada terkesan dibuat-buat.
Meski banyak pengguna TikTok belum mampu membeli tas Loewe, brand ini membangun aspirasi dengan menonjolkan produk yang lebih terjangkau seperti lilin atau parfum. Video mereka menampilkan momen nyata bersama produk Loewe—bukan materi kampanye yang dipoles berlebihan. Konten seperti ini terasa native di platform, dan hasilnya jelas: lebih dari 2,3 juta pengguna mengikuti brand ini, dengan total likes video melampaui 55 juta.
@loewe This would heal me. #LOEWE
♬ original sound - 𝐨𝐯𝐞𝐫𝐥𝐚𝐲𝐬 ✧˚ · - 𝐨𝐯𝐞𝐫𝐥𝐚𝐲𝐬 ✧˚ ·
Ketahui beberapa manfaat lain dari social listening:
Manfaatkan social listening untuk tetap unggul di TikTok
Merek yang sukses di TikTok bukan sekadar yang memiliki video paling mencolok, anggaran terbesar, atau para influencer selebritas terbanyak. Yang benar-benar unggul adalah yang mendengarkan dengan saksama. Dengan memantau pergerakan kompetitor, memahami audiens, mengidentifikasi tren sebelum mencapai puncaknya, dan menjalin kemitraan kreator yang autentik, Anda memberi bisnis Anda keunggulan kompetitif yang nyata.
Social listening mengubah TikTok dari sekadar tebak-tebakan menjadi saluran pertumbuhan strategis. Manfaatkan untuk tetap selangkah di depan pergeseran percakapan, mengoptimalkan pemasaran secara real-time, dan meluncurkan kampanye yang membuat pesaing Anda harus mengejar.
Mulai social listening di TikTok hari ini
Mulai uji coba gratis 7 hari, atau hubungi tim kami untuk mempelajari lebih lanjut tentang fitur platform serta potensi penerapannya.




